Selasa, Januari 22, 2013

Mochi, ‘Kue Kebangsaan’ Tahun Baru di Jepang

Foto-foto: ABDI PURMONO

Catatan lama, Sabtu, 7 Januari 2006

TIGA orang Jepang meninggal dan 30 orang lainnya terpaksa dibawa ke beberapa rumah sakit di Tokyo setelah tersedak dan sulit bernapas sewaktu makan mochi selama perayaan Tahun Baru 2006.
Dari  30 orang yang dirawat, sembilan orang di antaranya dalam kondisi gawat. Kondisi mereka diketahui dalam insiden terpisah di Tokyo, mulai 26 Desember 2005 hingga 4 Januari 2006 kemarin.

Seperti diberitakan Japan News Network (Rabu, 4 Januari 2006) dengan mengutip keterangan dari Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo (Tokyo Shobocho), korban tewas semuanya pria yang masing-masing berusia 80, 81, dan 91 tahun. Yang dalam kondisi gawat berusia antara 60 sampai 90 tahun. Seorang anak berusia lima tahun, serta dua remaja 20-an tahun juga dikabarkan tersedak mochi.

Itu bukan berita baru dan menggemparkan bagi rakyat Jepang lantaran hampir saban tahun ada saja orang Jepang, terutama kakek-nenek, yang dilaporkan dalam kondisi kritis dan bahkan meninggal lantaran jalan pernapasannya tersumbat mochi.

Pemerintah memang prihatin tapi tentu mustahil melarang orang Jepang menikmati mochi. Tindakan paling masuk akal untuk mencegah berulangnya insiden serupa adalah senantiasa mengingatkan rakyatnya untuk berhati-hati sewaktu menikmati kue tradisional Jepang nan kenyal tersebut.

Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo, misalnya, rajin mengingatkan warga agar jangan asal main telan. Warga sangat disarankan untuk memotong mochi kecil-kecil, dikunyah pelan-pelan, serta sebaiknya “disorong” dengan seteguk air. Bagi para orang tua lanjut usia yang hidup sendiri, sebaiknya mengundang kerabat atau tetangga untuk bersama menikmati mochi, biar ada yang “mengawasi” dirinya saat makan.

Otsuka Hatsuo
Sejatinya mochi berasa tawar dan tentu saja tidak mematikan. Omochi adalah sebutan dalam bahasa Jepang yang umum dipakai untuk menyebut kue mochi di Indonesia. Aksara “o” di depan kata mochi cuma penghalus—galib diucapkan perempuan Jepang.

Mochi masuk ke Jepang dari Asia Tenggara, semasa sistem penanaman padi baru saja dikenal Jepang. Teknik menanam padi dari daratan Asia telah dikenal Jepang sejak 2.300 tahun silam, serta peradaban pertanian padi dimulai sejak periode Yayoi (300 SM sampai 300 M). Diperkirakan, padi pertama kali ditanam di bagian utara Pulau Kyushu. Beberapa ratus tahun kemudian dari periode Yayoi, padi sudah dikenal luas dan ditanam di seluruh kepulauan Jepang, kecuali di bagian utara Pulau Hokkaido.

Tapi, karena penelitian sejarah penanaman padi hingga kini masih berlanjut, maka ada saja pakar pertanian Jepang yang ngotot menyatakan Negeri Matahari Terbit sudah mengenal teknik menanam padi sejak periode Jomon (10.000 SM sampai 300 SM). Entahlah. Yang sudah pasti, pada awal sejarahnya, perekonomian Jepang bergantung pada kegiatan berburu dan meramu sehingga mereka memakan apa saja yang dapat diperoleh di daerahnya.

Sedangkan sejarah tradisi membuat mochi (mochitsuki) masih lebih gampang dilacak. Di luar literatur, beberapa orang Jepang yang ditanya kompak menyebut bahwa tradisi membuat mochi untuk merayakan tahun baru (shogatsu) berakar pada periode Heian (794-1185). Waktu itu Jepang masih menggunakan kalender versinya sendiri.

Citra mochi menjadi “kue kebangsaan” makin kukuh sejak Jepang makin memodernkan diri, terutama saat menyambut sekaligus merayakan pergantian tahun. Boleh dikata, Tahun Baru menjadi melembaga sejak Jepang menggunakan kalender Gregorian, persisnya sejak 1 Januari 1873 atau mulai tahun keenam periode Meiji (1869-1912).

Sebelumnya, hingga akhir tahun kelima priode Meiji (1872), Jepang masih menggunakan sistem kalender Tenpo Reki, yang merupakan kalender lunisolar, perpaduan sistem kalender matahari dan kalender lunar. Uniknya, selain menggunakan tahun Gregorian, Jepang juga menulis tahun berdasarkan nama masa kekaisaran Jepang (Gengo).

Ambil contoh begini. Penulisan tanggal dalam kalender Jepang diurut dari tahun, bulan, dan tanggal (hari), dengan huruf Kanji. Samalah dengan sistem kalender Barat, tapi penulisannya diimbuhi huruf Kanji untuk tahun, bulan, dan hari. Berhubung di komputer saya tidak ada huruf Jepang, maka diganti saja penulisannya jadi Latin: 2006/1/7. Dengan menggunakan nama zaman kekaisaran, maka penyebutan tahun diganti dengan angka 18/1/7 atau dibaca Heisei juhachinen ichigatsu nanoka). Heisei adalah nama zaman yang menandai pemerintahan Kaisar Akihito, sejak 8 Januari 1989.

Otsuka Hatsuo dan Otsuka Kisah
Saya dan sejumlah orang Indonesia merasakan langsung asyiknya membuat mochi di rumah Otsuka Hatsuo di Sukemune, Kota Fujieda, Prefektur Shizuoka, 30 Desember 2005. Prefektur sederajat provinsi. Dalam bahasa Jepang provinsi atau prefektur sama dengan ken. Shizuoka-ken berada di Pulau Honshu, pulau terbesar di Jepang.

Hatsuo-san dibantu Otsuka Kisah, istrinya. Suami-istri ini sebaya, sama-sama berumur 72 tahun. Menurut Hatsuo-san, sebaiknya mochitsuki ditangani sendiri oleh si empunya hajat. Bukannya Hatsuo-san pelit berbagi ilmu dan pengalaman, tapi dalam keyakinan dia, campur tangan orang lain dapat mengurangi aliran rezeki dan mengundang bala. Kalau dikerjakan keroyokan dengan berganti-ganti orang, katanya tegas, “Itu seperti soshiki (upacara orang meninggal).”

Kalaupun akhirnya dia bersikap moderat dengan membolehkan orang lain terlibat dalam mochitsuki, tak lain karena dia juga ogah dicap kolot oleh generasi zaman sekarang. Dia berdalih lagi, “Menyenangkan banyak orang juga perbuatan mulia. Kalau tak ada lagi orang yang peduli pada mochitsuki, yang rugi kami juga.”

Anggota keluarga dan tamu-tamunya manggut-manggut. Sebagai bukti dia bersikap “sadar zaman”, mochi pertama dan keenam dikerjakan sendiri oleh Hatsuo-san dan istrinya.

Yang penting, kata dia, niat mulia membuat mochi tak berubah: sebagai persembahan bagi para dewa (kami). Dari dulu mochi telah menjadi sesajian bagi kami sehingga mochi selalu ada dalam upacara keagamaan dan pesta rakyat (matsuri).

Mochi khusus buat kami disebut osonae mochi, yang berbentuk dua tingkat. Tingkat bawah berbentuk bulat pipih, sedangkan tingkat atas berbentuk bulat dalam ukuran lebih kecil, yang di atasnya diletakkan mikan (jeruk keprok) dan dihias dengan daun-daunan dan tali kuning merah. Osonae mochi atau kagamimochi biasanya dipamerkan di rumah-rumah tradisional dan kuil-kuil. Tapi ada juga yang meletakkan di sudut ruangan dalam rumah pribadi dan kantor.


Osonae mochi
Di Indonesia dan di beberapa negara Asia, mochi dibuat dari tepung beras ketan putih. Di Jepang, mochi dibuat dari beras khusus (mochigome) yang mirip ketan setelah ditanak menjadi nasi. Beras Jepang banyak jenisnya. Beras Jepang termasuk jenis japonica yang bentuknya lebih pendek dan lebih bulat daripada jenis indica, beras yang biasa dimakan di Indonesia. Jenis japonica lebih lengket sehingga nasinya mudah dimakan dengan sumpit (hashi).

Secara tradisional, nasi ini kemudian diuleni dengan cara ditumbuk dengan kine (alu khusus) dan dibolak-balik dalam sebuah usu (lesung kayu) dengan diberi tambahan air. Lama penumbukan 15-20 menit. Kulit mochi—sebutan untuk permukaan mochi—yang halus dan kenyal menandakan penumbukan selesai dan siap diangkat, lalu ditaruh di atas wadah yang lebar dan ditaburi tepung beras. Asal tahu saja, kulit mochi (mochi hada) juga acap diucap sebagai kiasan untuk pipi bayi yang halus atau pipi perempuan nan mulus. Nah!

Pembuatan mochi kini lebih merupakan sebuah ritual perayaan Tahun Baru, yang umumnya dilakukan serentak pada 30 dan 31 Desember, ketimbang murni ritual mochitsuki. Karena mochi bisa diproduksi massal dengan mesin modern, maka mochi siap santap kini banyak dijual di toko-toko kue dalam pelbagai rupa dan rasa, serta untuk serbaneka keperluan.

Sebagai camilan, isi mochi bervariasi tapi kebanyakan biasanya berisi kacang merah olahan (ogura). Bentuknya juga beragam, tapi kebanyakan bulat, atau bundar pipih, atau dipotong-potong menjadi bentuk persegi. Kendati mochi sudah menjadi penganan tersendiri, tapi bisa saja mochi menjadi bahan untuk masakan Jepang.

Ada banyak variasi mochi. Yang populer antara lain ozoni (sup khusus untuk Tahun Baru, yang berisi potongan mochi dan sayur-sayuran), yakimochi (mochi panggang yang diberi kecap, parutan lobak, dan dibalut dengan rumput kering), daifuku (mochi lunak berisi selai kacang merah manis), oshiruko (sup kacang merah dengan potongan-potongan mochi, yang merupakan hidangan di musim dingin), dan es krim mochi yang justru terkenal di California, Amerika Serikat.

Rupa dan rasa ozoni hampir selalu berbeda di masing-masing daerah. Di kawasan Kanto (Tokyo dan sekitarnya), umumnya ozoni dibuat sebagai sup bening yang berisi potongan mochi berbentuk persegi-persegi. Di kawasan Kansai (Osaka dan sekitarnya), kaldu sup ini diberi miso (sejenis tauco) dan bulatan-bulatan kecil mochi. Bumbunya berlainan menurut daerah dan kesukaan keluarga.

Mochi Indonesia juga terbuat dari ketan, dengan nama khas dari bahasa daerah setempat. Orang Jawa Timur mengenal tethel atau gemblong. Kue uli terkenal di Jawa Barat. Kue mochi khas Jawa Tengah namanya jadah, orang Bali menyebutnya jaja.

Ada sedikit perbedaan antara mochi versi Jepang dan Indonesia, kendati bahan dan cara mengolahnya sama. Di Indonesia, ketan yang hendak dikukus dicampur kelapa yang diparut, serta hasil tumbukkannya pun tidak sehalus mochi Negeri Sakura.

Satu perbedaan lagi, kemampuan kita dalam mengemas dan mempromosikan keragaman makanan dan kue-kue tradisional belumlah sebagus dan “seheboh” orang Jepang. Mereka sangat jago mengemas apa pun menjadi tampak indah, mengundang kekaguman, dan membuat orang penasaran. Namun, jangan persoalkan rasanya karena rasa menyangkut selera dan selera tak bisa diperdebatkan.

Akemashite omedeto gozaimasu. Selamat menikmati masa Tahun Baru!



Tidak ada komentar: